Hujan Kepagian
Selasa, 31 Maret 2015
Kertas Seribu Impian: Kertas Seribu Impian
Kertas Seribu Impian: Kertas Seribu Impian: Kertas Seribu Impian Keajaiban itu, berawal saat siswa baru yang bernama Erick menginjakkan kakinya di sebuah sekolah ung...
Hujan Kepagian
Hujan Kepagian
Dengan
jaket abu-abu aku melangkah menuju ke persimpangan dimana aku biasanya menunggu
bis yang mengantarkan aku menuju ke sekolahku. Setelah beberapa menunggu aku
memberhentikan satu bis yang lewat, dan aku tiba di sekolah tepat waktu
sebagaimana biasanya. Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Aku punya Abang,
Kakak dan adik perempuan. Pagi ini ada rasa yang berbeda di hatiku, entah
kenapa aku merasa haru dan sedih, mungkin karena suasana mendung di pagi ini.
Saat
ku letakkan tas ku di mejaku, aku terduduk terdiam dan termenung sejenak,
suasana ini membuat aku bingung sendiri, entah apa yang aku pikirkan. Setelah
pelajaran hari ini berlangsung baik seperti biasanya, aku pulang jalan kaki
bersama teman-temanku. Sejenak ada rasa yang menggetarkan dihatiku. Seakan-akan
jantungku tersentak dan berdebar kencang, pertanda apakah itu, aku pun tidak
tahu pasti.
Sampai
dirumah,aku baru menyadari mungkin itu adalah pertanda, aku melihat adik
perempuan ku yang tiba lebih awal dari ku sedang memapah Ibu ku, penyakit asam
lambung ibuku kambuh lagi. Kami membawa Ibu untuk pertolongan sementara ke
Rumah sakit di daerahku. Aku melihat dengan tatapan yang dalam, Ibu ku
menyimpan rasa sakit yang tidak tertahankan, sepertinya penyakit Ibu sudah
parah. Beberapa minggu lagi adikku akan mengikuti ujian Nasional tingkat SMP.
Sebagai Abang, aku harus bisa tetap tegar, karena Abang dan Kakak ku ada di
Ibukota melanjutkan sekolahnya di Universitas. Saat ku genggam HandPhone ku,
aku tidak sampai hati memberitahu pada mereka bahwa Ibu sedang sakit. Bapak ku
tiba di Rumah Sakit, dengan langkah yang biasa tanpa rasa panik, ku perhatikan
Bapak, beliau memang orang yang tenang menghadapi masalah.
Bapak
masuk keruangan dokter, dan sepertinya kondisi Ibu lumayan parah, jadi harus
terpaksa dibawa ke Kota yang jaraknya 4 jam dari kabupatenku untuk mendapatkan
perawatan yang lebih intensif. Segera Bapak bergegas mengumpulkan semua
perlengkapan yang perlu untuk dibawa. Saat itu kira-kira jam 5 sore. Aku hanya
bisa terdiam seperti anak kecil yang masih polos. Tanpa berbicara banyak, Bapak
berpesan padaku. “Ada uang dilemari ini, pergunakanlah sebaik-baiknya, jangan
lupa mengunci pintu, jaga adikmu baik-baik” kata Bapak sambil bergegas memapah
Ibu masuk ke Mobil yang disewa Bapak.
Ini
pertama kalinya aku ditinggal seperti ini, ada rasa yang sedih dhatiku. Aku
akui aku bukan orang yang bisa bersikap dewasa, selama ini semuanya Ibu yang
persiapkan. Setelah Bapak dan ibu berangkat, bar pun rasa lapar mulai terpikir
olehku. Tidak ada makanan di meja saji, dan suasana begitu sepi. Biasanya Ibu
sudah menyiapkan kami makanan, dan tidak pernah membiarkan kami kelaparan.
Adikku hanya bisa terdiam dengan suasana mata yang masih berkaca-kaca dan
sembap.
Dengan
bahan seadanya di dapur, akhirnya aku memasak
mi rebus untuk kami berdua. Terasa sangat nikmat sekali mi rebus itu,
mungkin kami sudah lapar sejak pulang
sekolah tadi. Samapi malam aku tidak tertidur menunggu kabar dari bapak.
Sekitar jam 9 malam, Bapak menelepon menagabarkan bahwa mereka sudah tiba
disana, dan ibu sudah dimasukkan keruangannya.
Sedikit
lega perasaanku. Dan malam ini kami tidur diselimuti perasaan sedih, dengan
harapan semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesembuhan pada ibu. Belakangan
ini adalah masa-masa sulit bagi keluargaku. Abangku sedang dalam proses
skripsi, dan dia sedang membutuhkan uang lebih banyak saat ini. Benar kata
orang bijak yang mengatakan “darah lebih kental dari air”, tiba-tiba kakak ku
menelepon, tidak biasanya dia menelepon selarut ini, sekitar jam sebelas malam,
dia menelepon untuk menanyakan kabar Ibu, tapi aku berusaha untuk bersikap
tegar bilang kalau ibu sudah tidur.
Sepertinya
ada kontak batin dihatinya, dia bersikeras untuk berbicara pada Ibu. Dan
akhirnya, aku sudah tidak bisa lagi menahan air mata ku, dengan nada yang
bergeatar, aku ceritakan kepadanya kejadian tadi hari ini. Dari tempatnya,
terdengar kakak menangis di telepon, tapi dia bilang kalau dia tidak bisa
pulang karena dalam keadaan Ujian Akhir Semester. Aku kuatkan hatiku, karena
sebagai anak laki-laki seharusnya aku harus bisa bersikap lebih tegar. Ada rasa
jatuh di hatiku, aku cemas keadaan Ibu, dan aku sedih karena dirumah yang cukup
luas ini kami melewatkan malam ini tanpa orangtua kami, karena belum pernah
kami ditinggal seperti ini sebelumnya, kalaupun ada urusan Bapak dan ibu,
biasanya ada Kakak ku yang datang menemani kami.
Teman-temanku
dan orang-orang disekitarku mungkin menanggapi hal ini biasa saja, tapi ini
adalah hal paling sedih dalam hidupku. Aku takut kalau samai ada apa-apa ada
Ibu, aku cemas karena aku dan adikku harus melalui hari-hari sulit ini berdua.
Sudah
tiga hari Ibu dirawat, syukurlah keadaan ibu membaik. Dan hari-hari itu kami
lewati dengan makanan insatan seadanya. Pagi ini hujan turun, suasana mendung
lagi, aku putuskan untuk tidak kesekolah hari ini, di ruangan depan rumah aku
terduduk sambil menatap kearah jendela kaca, rintikan hujan tetes demi tetes
sekan-akan meneriaki aku. Aku sadar bahwa Ibu adalah harta yang paling berharga
yang dimiliki seorang anak didunia ini. Ibu adalah wanita yang selalu
membangunkan aku dipagi hari, yang menyiapkan sarapan untukku, yang selalu
menyapkan makanan setiap aku pulang sekolah, yang terjaga saat aku tidur
dimalam hri, yang berdoa untukku dan mencintai kami anak-anaknya, lbih dari dia
mencintai dirinya.
Beruntunglah
aku dan orang-orang yang masih punya ibu, aku jadi semakin sedih mengingat
teman-temanku yang sudah tidak punya Ibu lagi, tapi walaupun demikian, mereka
adalah orang-orang yang kuat, yang tegar menghadapi dunia ini.
Setelah
hampir seminggu dirawat, Bapak memberikan kabar bahwa Ibu sudah bisa pulang
karena keadaan ibu sudah membaik, dan saat itu juga ada kakak ku yang ternyata
datang kesana untuk membantu Bapak merawat Ibu.
Sedikit
gejolak hidup ini dari sekian banyak lagi yang harus aku hadapi membuat aku
tersadar bahwa aku harus menghargai hidup, dan harus bisa mensyukuri apa yang
ada padaku. Tetesan air mata itu kusimpan dalam-dalam, senyumku ku tebarkan
erat-erat dan berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, walaupun
aku tahu suatu saat nanti itu pasti akan terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)